- February 16, 2026
- 1273 Views
- 5 minutes read
VR Dorong Keberlanjutan Rehabilitasi PPOK Pasca-Eksaserbasi

Simulasi latihan rehabilitasi paru berbasis Virtual Reality untuk mendukung tele-rehabilitasi pasien PPOK pasca-eksaserbasi.
PT VILABS memandang bahwa rehabilitasi paru tidak seharusnya berhenti ketika pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) keluar dari rumah sakit. Justru pada fase pasca-eksaserbasi, risiko penurunan fungsi paru, keterbatasan aktivitas, hingga kekambuhan kembali meningkat secara signifikan.
Sayangnya, dalam praktik klinis sehari-hari, rehabilitasi paru sering kali terputus setelah pasien kembali ke rumah. Jarak fasilitas layanan, kondisi fisik yang belum stabil, keterbatasan pendampingan, serta rendahnya motivasi latihan jangka panjang menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan terapi.
Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan rehabilitasi paru yang lebih fleksibel, mudah diakses, dan mampu mempertahankan keterlibatan pasien secara berkelanjutan.
Peran Teknologi dalam Rehabilitasi Paru Modern
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa rehabilitasi paru berbasis rumah (home-based pulmonary rehabilitation) dapat meningkatkan kapasitas latihan, menurunkan sesak napas (dyspnea), serta memperbaiki kualitas hidup pasien PPOK, terutama setelah eksaserbasi akut.
Namun, pendekatan berbasis rumah juga memiliki tantangan tersendiri. Latihan yang monoton, minim umpan balik, serta kurangnya supervisi sering menyebabkan kepatuhan pasien menurun seiring waktu.
Dalam konteks inilah teknologi digital khususnya Virtual Reality (VR) mulai mendapat perhatian sebagai media rehabilitasi yang lebih imersif dan interaktif. VR memungkinkan pasien menjalani latihan dalam lingkungan virtual yang terstruktur, menarik, dan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan metode konvensional.
Sejumlah studi melaporkan bahwa rehabilitasi paru berbantuan VR berpotensi meningkatkan toleransi latihan serta memberikan persepsi terapi yang lebih positif karena latihan terasa lebih engaging dan tidak membosankan.
VR sebagai Penguat Motivasi dan Kepatuhan
Temuan dari berbagai studi menunjukkan bahwa integrasi VR dalam rehabilitasi paru berpotensi:
- meningkatkan keterlibatan dan motivasi pasien selama latihan,
- membantu menjaga konsistensi durasi serta intensitas latihan,
- menurunkan persepsi sesak napas melalui distraksi imersif yang terkontrol,
- mendukung keberlanjutan rehabilitasi setelah pasien kembali ke rumah.
Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga kesehatan, melainkan memperkuat sistem rehabilitasi dengan dukungan teknologi yang memungkinkan pemantauan dan pendampingan jarak jauh secara lebih efektif.
Menuju Rehabilitasi Paru yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan
VILABS melihat teknologi VR bukan sekadar alat, tetapi sebagai medium untuk merancang ulang pengalaman rehabilitasi paru agar lebih human-centered, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pasien kronik.
Pendekatan rehabilitasi berbasis teknologi membuka peluang agar pasien tetap dapat berlatih secara terstruktur dari rumah, tanpa kehilangan arah terapi dan supervisi profesional. Hal ini menjadi penting dalam konteks penyakit kronik seperti PPOK yang membutuhkan manajemen jangka panjang.
Ke depan, rehabilitasi paru diperkirakan akan bergerak menuju model layanan yang:
- berbasis rumah namun tetap terukur,
- adaptif terhadap kondisi klinis pasien,
- serta terintegrasi dengan ekosistem layanan kesehatan digital.
Melalui kolaborasi dengan fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan mitra industri, VILABS berkomitmen menghadirkan solusi rehabilitasi paru digital yang lebih mudah diakses, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi pasien PPOK di Indonesia.