- August 11, 2026
- 2284 Views
- 7 minutes read
VR untuk Mengamati Respons dan Aktivitas Neurologis pada Autism Spectrum Disorder

PT VILABS Teknologi Indonesia melihat Virtual Reality (VR) bukan sekadar teknologi untuk menciptakan pengalaman imersif. Dalam bidang kesehatan, VR dapat menghadirkan lingkungan simulasi yang membantu peneliti dan tenaga kesehatan mengeksplorasi berbagai respons manusia secara lebih terstruktur.
Potensi ini semakin menarik ketika VR dipadukan dengan teknologi yang membaca aktivitas otak. Pada Autism Spectrum Disorder (ASD), pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengamati bagaimana seseorang merespons stimulus dan pengalaman tertentu, sekaligus melihat aktivitas neurologis yang menyertainya.
Bayangkan seseorang berinteraksi dengan lingkungan virtual, sementara sistem secara bersamaan merekam aktivitas otaknya. Pendekatan seperti ini membawa pengalaman yang sebelumnya hanya diamati melalui perilaku ke dalam bentuk data neurologis yang bisa dianalisis lebih lanjut.
VR untuk Mendukung Penelitian Autism Spectrum Disorder
Pemanfaatan VR dalam penelitian ASD terus berkembang karena teknologi ini mampu menghadirkan pengalaman yang interaktif dan terkontrol. Peneliti dapat merancang lingkungan virtual sesuai kebutuhan penelitian, memberikan stimulus tertentu, kemudian mengamati respons peserta selama berinteraksi dengan lingkungan tersebut.
Pendekatan ini menjadi semakin menarik ketika peneliti menggabungkan VR dengan teknologi pengukuran aktivitas otak. Kombinasi tersebut membantu melihat hubungan antara pengalaman yang diterima pengguna dengan respons neurologis yang muncul selama simulasi.
Ketika VR Dipadukan dengan BCI, EEG, dan fMRI
Penelitian berjudul Combination of Virtual Reality (VR) and BCI & fMRI in Autism Spectrum Disorder oleh Angeliki Sideraki dan Athanasios Drigas membahas potensi kombinasi VR dengan Brain-Computer Interface (BCI), EEG, dan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) dalam penelitian ASD. Penelitian ini diterbitkan dalam International Journal of Online and Biomedical Engineering (iJOE) pada 2023.
Dalam pendekatan tersebut, BCI (Brain-Computer Interface) menghubungkan aktivitas otak dengan sistem komputer. Teknologi ini memungkinkan sistem menangkap sinyal dari otak dan menggunakannya sebagai bagian dari interaksi manusia dengan komputer.
Sementara itu, EEG (Electroencephalography) merekam aktivitas listrik otak. Peneliti dapat memanfaatkan data tersebut untuk melihat aktivitas neurologis ketika peserta menjalani pengalaman atau menerima stimulus tertentu.
Berbeda dengan EEG, fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) membantu peneliti mengamati perubahan aktivitas otak berdasarkan respons yang berkaitan dengan aliran dan oksigenasi darah. Dalam kombinasi dengan VR, teknologi ini membantu menghadirkan stimulus dalam lingkungan virtual sekaligus mengamati respons otak yang muncul.
Kombinasi ketiga pendekatan tersebut dengan VR menghadirkan peluang untuk melihat pengalaman virtual dari sisi yang lebih luas: apa yang dilakukan pengguna, stimulus apa yang diterima, dan bagaimana otak merespons pengalaman tersebut.
Dari Pengalaman Virtual Menjadi Data
Dengan mengintegrasikan VR dan teknologi pengukuran aktivitas otak, proses simulasi dapat memberikan data tambahan mengenai respons pengguna, seperti:
- Aktivitas otak saat berinteraksi dengan lingkungan virtual.
- Perubahan aktivitas otak ketika menerima stimulus tertentu.
- Kaitan antara pengalaman virtual dengan proses kognitif dan emosional.
- Data aktivitas neural yang diperoleh melalui EEG dan fMRI.
- Respons pengguna terhadap berbagai skenario yang dirancang dalam VR.
Membuka Peluang Baru untuk Teknologi Kesehatan
Perkembangan teknologi ini menunjukkan bahwa VR memiliki peluang yang lebih luas dalam bidang kesehatan. Pengembang dapat menggabungkan lingkungan virtual dengan sensor dan teknologi pengukuran untuk menciptakan sistem yang tidak hanya menghadirkan pengalaman imersif, tetapi juga menghasilkan data.
Melalui berbagai proyek riset dan pengembangan yang terus berjalan, VILABS berkomitmen menghadirkan solusi berbasis Virtual Reality yang mendukung inovasi teknologi kesehatan.
VILABS membuka peluang kolaborasi dengan institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, pusat penelitian, dan mitra teknologi untuk mengembangkan solusi Virtual Reality yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.