
Pembelajaran Perawatan Gigi dengan Mixed Reality (Dok. PT VILABS)
Bagaimana jika calon dokter gigi bisa berlatih prosedur klinis rumit tanpa harus menggunakan gigi tiruan atau pasien sungguhan?
Selama ini, pelatihan tradisional memakai gigi tiruan atau gigi hasil ekstraksi. Namun, cara itu punya banyak keterbatasan. Selain keterbatasan ketersediaan bahan, kondisi tak menyerupai pasien asli, dan berisiko terkontaminasi bahan berbahaya.
Oleh karenanya, diperlukan inovasi terbaru di dunia teknologi kesehatan. Penggabungan Mixed Reality (MR) dan Haptic Feedback memungkinkan pelatihan yang aman, efisien, dan realistis. Dengan MR, mahasiswa bisa “melihat” dan “merasakan” proses pelatihan pengecekan dan perawatan gigi secara virtual. Kondiri tersebut tentu tanpa mengorbankan keamanan atau biaya sebesar pelatihan tradisional.
Tim peneliti dari Peking University School and Hospital of Stomatology bersama Beihang University berhasil mengembangkan Unidental MR Simulator. Temuan ini merupakan sebuah sistem pelatihan kedokteran gigi yang mengombinasikan lingkungan nyata dan virtual untuk memberikan pengalaman belajar yang realistis.
Dalam penelitian ini, simulator ini menggabungkan berbagai kompenen seperti:
1. Head-Mounted Display (HMD) seperti HoloLens 2 untuk menampilkan lingkungan virtual yang realistis.
2. Perangkat Haptic Feedback yang memberikan sensasi tekanan dan resistensi layaknya proses pengasahan gigi sungguhan.
3. Phantom Head sebagai model fisik kepala pasien yang terintegrasi dengan dunia virtual.
Dengan kombinasi ini, pengguna dapat berlatih prosedur crown preparation.
Prosedur ini penting untuk menyiapkan gigi rusak agar bisa dipasangi pelapis buatan. Hasilnya memiliki tingkat realisme tinggi, mulai dari posisi pasien hingga rasa sentuhan alat terhadap gigi. Hal itu didapatkan dari data perangkat MR dan haptic yang diolah bersamaan untuk menciptakan respons akurat.
Uji coba dilakukan terhadap 34 peserta, terdiri dari mahasiswa tingkat akhir dan dokter gigi berpengalaman. Hasilnya menunjukkan 74% peserta puas dengan pengalaman menggunakan simulayor, 91% merasa simulator ini mampu meningkatkan minat belajar.
“The Unidental MR Simulator demonstrates good face validity, effectively simulating a clinical environment for dental training.”
Li et al., 2022
Keberhasilan penelitian seperti Unidental MR Simulator menjadi kesempatan bagi pengembangan teknologi serupa di Indonesia. Melalui pendekatan Digital Reality yang dikembangkan oleh PT VILABS, pembelajaran dan pelatihan medis diharapkan dapat menjadi lebih interaktif, aman, dan efisien.
VILABS melihat potensi besar penerapan Mixed Reality dan Haptic Feedback tidak hanya di bidang kedokteran gigi, tetapi juga pada pelatihan keterampilan medis lainnya. Penggunaannya seperti simulasi tindakan bedah, penanganan darurat, hingga edukasi pasien. Teknologi ini mampu memberikan pengalaman belajar yang mendalam dengan risiko minimal, sekaligus menghemat biaya operasional pelatihan.
Selain itu, integrasi antara visualisasi 3D dan sensasi sentuhan (haptic sensation) dapat meningkatkan muscle memory peserta pelatihan. Dengan begitu, proses belajar lebih natural dan menyerupai pengalaman klinis nyata.
Melalui kolaborasi lintas sektor, VILABS berkomitmen untuk memperluas adopsi teknologi Digital Reality di dunia pendidikan kesehatan. Upaya ini merupakan bagian dari misi VILABS dalam mendukung transformasi digital nasional di bidang HealthTech. Selain itu, juga untuk menciptakan ekosistem pembelajaran medis yang modern dan berkelanjutan.
Ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai topik ini? Hubungi kami melalui kontak di bawah ini.