- May 28, 2026
- 1675 Views
- 7 minutes read
Program Praktisi Mengajar di Ilmu Komputer UGM: VILABS Berbagi Strategi Pendanaan Start-Up Melalui Pendekatan Syirkah dan Implementasi Kemitraan Digital Reality

Berikut versi yang sudah diperbaiki agar lebih ramah SEO sesuai saran pada gambar: kalimat dipersingkat, ditambahkan transition words, dan alur dibuat lebih nyaman dibaca tanpa mengubah inti isi artikel.
Dalam membangun start-up digital, tantangan terbesar mahasiswa bukan hanya pada aspek teknis produk. Namun, tantangan utama juga terletak pada menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketatnya pendanaan. Data industri menunjukkan bahwa 90% start-up mengalami kegagalan. Selain itu, investor saat ini menjadi jauh lebih selektif. Fokus mereka tidak lagi hanya pada pertumbuhan pengguna (traction), tetapi juga keuntungan riil (profit). Oleh karena itu, founder muda perlu memahami strategi pendanaan dan pola kemitraan bisnis sejak awal.
Untuk memberikan gambaran nyata mengenai ekosistem industri, PT VILABS Teknologi Indonesia hadir sebagai pembicara dalam program Praktisi Mengajar di Departemen Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui sesi ini, VILABS menjembatani teori akademik dengan praktik industri teknologi imersif serta strategi pengelolaan modal yang transparan.
Pendekatan Syirkah dan Strategi Pendanaan Start-Up
Sebagai alternatif dari modal ventura konvensional yang semakin kompetitif, start-up dapat menerapkan kemitraan berbasis Syariah (Syirkah). Melalui akad yang jelas, hak dan kewajiban setiap pihak dapat diatur secara transparan. Dengan demikian, kerja sama bisnis menjadi lebih sehat dan terhindar dari praktik yang batil.
Selain itu, VILABS juga memperkenalkan VILABS Framework. Framework ini menunjukkan bahwa start-up dapat bergerak secara taktis meski dengan modal awal yang sangat kecil. Bahkan, proyek bernilai miliaran rupiah dapat dimulai dari modal Rp50.000 melalui strategi “50K to 1B Deals”.
Dalam mata kuliah Pengembangan Start-Up Digital yang diampu Muhammad Oriza Nurfajri, S.Kom., M.IT., Ambar Setyawan membagikan pengalaman pendanaan yang pernah dijalani grup perusahaannya. Mahasiswa diajak memahami perjalanan sebuah produk sejak tahap awal hingga komersialisasi.
Beberapa studi kasus yang dibahas meliputi:
-
Hibah RISTEKDIKTI sebesar Rp300 juta untuk produk edukasi AR Clenovio pada 2016.
-
Investasi VC senilai Rp3,5 miliar dari UMG Idealab untuk pengembangan metaverse Arutala pada 2019.
-
Strategi bootstrapping pada berbagai proyek komersial VILABS.
Materi Praktisi Mengajar dari VILABS
Materi yang disampaikan dibagi menjadi dua fokus utama, yaitu strategi pendanaan start-up serta implementasi Digital Reality.
1. Strategi Pendanaan dan Konsep Syirkah
Mahasiswa mempelajari berbagai konsep akad Syirkah, seperti Inan, Abdan, Mudharabah, dan Musyarakah. Selain itu, dijelaskan pula model kemitraan yang tidak sesuai secara fiqih agar dapat dihindari.
Tim VILABS juga menjelaskan struktur tim start-up melalui konsep Hacker, Hipster, dan Hustler. Setiap peran memiliki fungsi berbeda, mulai dari pengembangan teknologi, desain produk, hingga strategi bisnis dan pemasaran.
Selanjutnya, mahasiswa memahami perbedaan antara owner dan employee. Pembahasan mencakup aspek akad, kepemilikan, risiko bisnis, hingga sistem pendapatan.
Tidak hanya itu, sesi ini juga membahas simulasi pembagian keuntungan (profit & loss sharing). Mahasiswa mempelajari cara menentukan nisbah secara adil serta mitigasi risiko ketika terjadi pembubaran kerja sama.
2. VILABS Framework dan Portofolio Digital Reality
Pada sesi kedua, mahasiswa diperkenalkan pada langkah praktis memulai bisnis dengan biaya minimal. Materi meliputi pembuatan PT Perorangan, NPWP, NIB, hingga pengelolaan rekening perusahaan.
Selain itu, mahasiswa mempelajari cara melakukan validasi pasar. Tim VILABS menjelaskan teknik menggali kebutuhan klien, menyusun business deck, dan menentukan penawaran biaya secara realistis.
VILABS juga menjelaskan alur kerja produksi (workflow concept). Tahapan kerja dimulai dari Gather Requirements, dilanjutkan proses Develop, hingga Deploy dan Quality Assurance.
Sebagai penutup, mahasiswa diperlihatkan berbagai implementasi teknologi Digital Reality di sektor kesehatan, industri, budaya, dan pariwisata. Beberapa contohnya meliputi:
-
VR Hemodialysis
-
VR Ventilator
-
VR CT Scan
-
VR Forensic Autopsy
-
Simulasi Alat Berat VR
-
AR Card Games Keraton Museum
-
VR 360 Laku Wirasa
Diskusi Interaktif dan Kolaborasi Industri
Sesi Praktisi Mengajar juga diisi diskusi interaktif bersama mahasiswa. Beberapa kelompok mempresentasikan ide start-up mereka dan memperoleh masukan terkait kesiapan pasar serta momentum inovasi.
Melalui kegiatan ini, VILABS dan Muhammad Oriza Nurfajri, S.Kom., M.IT. berharap mahasiswa mendapatkan pemahaman bisnis yang lebih komprehensif. Kemampuan teknis pemrograman diharapkan dapat berjalan seimbang dengan pemahaman finansial, kemitraan, dan pengelolaan tim.
Selain itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai penting untuk mempersiapkan talenta muda sebelum lulus kuliah. Karena itu, VILABS terus mendukung ekosistem akademik melalui program riset bersama, dukungan data penelitian, immersion internship selama enam bulan, hingga pengembangan kurikulum Digital Reality.
VILABS juga membuka peluang kerja sama dengan universitas maupun pusat riset lainnya dalam bentuk kuliah tamu, riset bersama, dan pendampingan proyek teknologi.